
Melalui kegiatan MGMP, guru Bahasa Indonesia mempelajari kaidah penulisan soal, penyusunan stimulus, serta kebijakan TKA jenjang SMP tahun 2026.
SMP Ibnu Syina Cileungsi
Musyawarah Guru Mata Pelajaran
(MGMP) Bahasa Indonesia Wilayah Timur Kabupaten Bogor kembali menyelenggarakan
kegiatan pengembangan profesional guru pada hari Jumat, 6 Februari 2026. Kali
ini, SMPN 1 Cileungsi menjadi tuan rumah kegiatan tersebut.
Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 13.30 ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi guru Bahasa Indonesia jenjang SMP di wilayah Kabupaten Bogor bagian timur, khususnya dalam penyusunan soal yang berkualitas dan sesuai dengan kebijakan terbaru dalam rangka persiapan pelaksanaan Tes Kompetensi Akademik (TKA) jenjang SMP yang rencananya akan dilaksanakan pada tanggal 6-16 April 2026.
Materi pertama disampaikan oleh Ibu
Warsih Sugianti, M.Pd., yang telah ditunjuk oleh Dinas Pendidikan untuk
mewakili Kabupaten Bogor dalam pembuatan soal TKA tingkat Provinsi Jawa Barat.
Kriteria dan Kaidah Penulisan Soal
Kaidah penulisan soal dibagi ke
dalam tiga aspek utama, yaitu materi, konstruksi, dan bahasa. Dari segi materi,
soal pilihan ganda harus sesuai dengan indikator yang diberikan, memiliki satu
jawaban yang benar, serta pilihan jawaban harus bersifat homogen dan logis.
Sedangkan pada aspek konstruksi,
pokok soal harus dirumuskan secara jelas, tidak mengandung petunjuk ke arah
jawaban yang benar, dan tidak menggunakan pernyataan negatif ganda, serta
panjang pilihan jawaban relatif sama. Selain itu, pilihan jawaban tidak boleh
menggunakan pernyataan seperti “semua jawaban benar” atau “semua
jawaban salah”.
Dari segi bahasa, setiap butir soal
wajib menggunakan Bahasa Indonesia yang sesuai dengan kaidah kebahasaan dan
tidak diperbolehkan menggunakan bahasa daerah apabila soal tersebut digunakan
dalam skala nasional, serta menghindari pengulangan kata atau frasa pada
pilihan jawaban.
Dalam pemaparannya, beliau juga
menjelaskan bahwa stimulus soal harus memenuhi beberapa kriteria utama, yaitu
kebaruan, relevansi, edukatif, inspiratif, dan menarik. Stimulus menjadi bagian
penting karena mendorong kemampuan literasi peserta didik dan menguji pemahaman
secara mendalam.
Contoh dan Koreksi Soal
Pemateri juga memaparkan contoh
soal berbasis kompetensi pemahaman inferensial, seperti menyimpulkan ide pokok
atau menjelaskan makna ungkapan dalam teks.
Dari contoh yang diberikan, peserta
diajak menganalisis kesalahan dalam penyusunan soal, misalnya perbedaan bentuk
frasa dan kata sifat yang menyebabkan opsi pilihan jawaban tidak homogen.
Melalui contoh tersebut, guru diharapkan lebih cermat dalam menyusun soal yang sesuai
dan terukur.
Kebijakan Penyusunan Soal TKA
Dalam kegiatan ini juga disampaikan
berbagai kebijakan penting terkait penyusunan soal TKA, seperti stimulus soal
tidak boleh mengandung unsur SARA, menyebutkan nama produk, mencantumkan nama
tokoh yang masih hidup, maupun mengangkat kearifan lokal dari daerah lain.
Untuk teks fiksi berupa cerita legenda yang mengandung nilai negatif, guru
diminta untuk memodifikasi isinya agar tetap bersifat edukatif.
Dijelaskan pula perbedaan kebijakan
antara Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Puspendik terkait dengan penggunaan soal
berbentuk pertanyaan, Di satu sisi, Puspendik memperbolehkan soal dalam bentuk
kalimat tanya, sedangkan Pemerintah Provinsi Jawa Barat melarang penggunaan
soal tersebut. Artinya, bentuk soal harus berupa pernyataan. Dalam hal ini,
guru dianjurkan untuk mengikuti kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah provinsi.
Setiap stimulus juga dianjurkan untuk
digunakan pada minimal tiga indikator dan wajib memiliki judul.
Arahan Pengawas dan Informasi
Pelaksanaan TKA
Arahan juga disampaikan oleh Pengawas
Pembina Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor, Dr. Hj. Taty Rahayuningsih, terkait
pelaksanaan TKA jenjang SMP yang akan dilaksanakan pada tanggal 6–16 April
2026. Hari pertama akan diisi dengan Matematika dan Survei Karakter, sedangkan
hari kedua diisi dengan Bahasa Indonesia dan Survei Lingkungan Belajar
(Sulingjar).
Untuk peserta yang mengikuti TKA jenjang SMP adalah siswa/i kelas IX, dan mulai tahun ini
ANBK tidak dilaksanakan secara mandiri, melainkan terintegrasi langsung dengan
TKA. Artinya, peserta TKA juga otomatis menjadi peserta ANBK.
Adapun alasan dipilihnya pelajaran Bahasa
Indonesia dan Matematika dalam Tes Kemampuan Akademik adalah karena kedua
pelajaran tersebut berperan sebagai
representasi kemampuan literasi dan numerasi siswa.
TKA sendiri bukan penentu
kelulusan, tetapi seluruh siswa/i kelas IX di Kabupaten Bogor didorong untuk
mengikutinya sehingga pemerintah dapat memperoleh data kualitas pendidikan di
Kabupaten Bogor secara riil.
Melalui kegiatan MGMP ini, guru
Bahasa Indonesia jenjang SMP di Wilayah Timur Kabupaten Bogor diharapkan
semakin memahami kaidah penulisan soal yang baik dan benar, serta mampu
menyusun soal TKA yang berkualitas dan mendukung peningkatan literasi peserta
didik.
Penulis: Alif Fauzan Qomari