
Seminar parenting ini menegaskan bahwa peran orang tua dalam pembentukan karakter anak di era digital bukanlah pilihan, melainkan kewajiban. Seminar ini juga menegaskan bahwa sekolah dan orang tua harus berjalan beriringan. Sekolah mendidik di ruang kelas, tetapi karakter dibentuk setiap hari di rumah.
SMP Ibnu Syina Cileungsi
Cileungsi — Di tengah
derasnya arus globalisasi, perkembangan teknologi, dan dominasi media sosial
dalam kehidupan sehari-hari, SMP Ibnu Syina Cileungsi menggelar seminar
parenting bertema “Peran Orang Tua dalam Pembentukan Karakter Anak di Era
Digital”. Kegiatan yang berlangsung pada hari Sabtu, 14 Februari 2026 ini
menjadi momentum penting untuk memperkuat kolaborasi antara sekolah dan
keluarga dalam mendidik generasi muda yang tangguh, berkarakter, dan adaptif
terhadap perubahan zaman.
Seminar ini menghadirkan
narasumber Dr.c Asep Ihsannulhak, S.Pd.I., M.M.Pd., Direktur EDUKARA dan
juga seorang akademisi dan praktisi pendidikan yang telah lama berkecimpung
dalam dunia edukasi dan pembinaan karakter anak. Puluhan wali murid SMP Ibnu
Syina kelas 7, 8, dan 9 hadir dengan penuh antusias, menunjukkan kesadaran
bahwa tantangan mendidik anak hari ini jauh berbeda dibandingkan generasi
sebelumnya.
Kepala Sekolah: Mendidik Anak
Adalah Investasi Peradaban
Dalam sambutannya, Kepala SMP
Ibnu Syina Cileungsi, Bapak Muhammad Alfizan Adib Naufal, M.Pd menyampaikan
bahwa kehadiran orang tua dalam seminar parenting ini merupakan bentuk tanggung
jawab dan kesungguhan dalam menuntut ilmu, termasuk ilmu mendidik anak.
Beliau juga menegaskan bahwa
narasumber yang hadir bukan sosok yang asing bagi sekolah.
“Beliau adalah salah satu orang
yang paling berjasa dalam perjalanan SMP Ibnu Syina. Kontribusinya bukan hanya dalam
bentuk pemikiran, tetapi juga dalam nilai dan arah pendidikan yang kita bangun
bersama,” ungkap Kepala Sekolah.
Untuk menggambarkan pentingnya
investasi dalam pendidikan anak, Kepala Sekolah mengisahkan cerita inspiratif
tentang Khalifah Harun al-Rasyid yang suatu hari melihat seseorang yang
telah lanjut usia sedang menanam pohon zaitun.
Ketika ditanya mengapa menanam
pohon yang lama berbuah, orang tua tersebut menjawab:
“Orang-orang terdahulu menanam,
lalu kita memanennya. Sekarang giliran kita yang menanam agar generasi setelah
kita yang memanennya.”
Kisah ini menjadi analogi kuat
bahwa mendidik anak adalah proses jangka panjang. Apa yang ditanam hari
ini—melalui perhatian, pembinaan karakter, dan pengawasan—akan dipanen di masa
depan dalam bentuk keberhasilan dan kebaikan anak-anak kita.
Tantangan Pengasuhan di Era
Digital
Kepala Sekolah juga menyoroti
fenomena ketergantungan anak terhadap gadget, khususnya telepon genggam. Ia
menyebut teknologi sebagai “dua mata pisau”.
“Teknologi bisa menjadi alat
belajar yang luar biasa, tetapi juga bisa menjadi pintu kecanduan jika orang
tua lalai. Kita tidak bisa hanya menyalahkan zaman, kita juga harus menyiapkan
diri kita,” tegasnya.
Mengutip pesan Khalifah Abu
Bakar As-Siddiq, beliau menekankan pentingnya membekali anak dengan
keterampilan hidup.
“Ajarilah anakmu memanah,
berenang, dan berkuda. Itu adalah gambaran bahwa bukan hanya soft skill, tetapi
hard skill juga dibutuhkan untuk menghadapi tantangan zaman.”
Ia juga mengingatkan relevansi
pemikiran seorang filsuf Yunani, Socrates yang mengatakan, “Didiklah
anakmu sesuai dengan zamannya.”
“Sekarang anak-anak hidup di era
kecerdasan buatan. Bahkan tugas sekolah bisa diselesaikan dengan bantuan
ChatGPT. Orang tua harus hadir untuk memastikan anak tidak hanya mengandalkan
teknologi secara instan tanpa proses berpikir,” tegasnya.
Kesadaran Diri dalam Pola Asuh
Memasuki sesi inti, Dr. Asep Ihsannulhak
membuka paparan dengan refleksi yang mendalam.
“Kehadiran Bapak dan Ibu hari ini
adalah bentuk kesadaran mencari ilmu, termasuk ilmu mendidik anak. Ilmu ini
bukan hanya untuk didengar, tetapi untuk disadari dan diamalkan,” ujarnya.
Beliau menekankan bahwa perubahan
pola asuh harus dimulai dari kesadaran diri orang tua. Tanpa kesadaran, pola
pengasuhan akan berjalan otomatis dan berulang, bahkan jika berdampak negatif.
Pola Asuh Negatif dan
Dampaknya pada Karakter Anak
Dr. Asep menjelaskan beberapa
pola asuh yang sering terjadi tanpa disadari namun berdampak jangka panjang.
1. Reaksi Berlebihan Saat Anak
Berbuat Salah
Ketika orang tua marah secara
meledak-ledak atau menghukum secara berlebihan, anak belajar bahwa kejujuran
itu berbahaya. Dampaknya, anak cenderung menutup-nutupi kesalahan dan
berbohong.
Dalam jangka panjang, hubungan
orang tua dan anak menjadi dingin serta minim keterbukaan.
2. Perhatian Hanya Saat Anak
Nakal
Ketika orang tua hanya memberikan
perhatian saat anak berperilaku negatif, anak belajar bahwa cara tercepat
mendapatkan perhatian adalah dengan membuat masalah.
Ini menciptakan pola drama
berulang yang sulit dihentikan.
3. Memarahi Anak di Depan Umum
(Shaming)
Perilaku ini merusak harga diri
anak. Anak akan menjadi pasif, tidak berani membela diri, bahkan rentan menjadi
korban bullying.
4. Terlalu Banyak Mengarahkan
Anak yang terlalu diarahkan tanpa
diberi kesempatan mencoba akan tumbuh dengan rasa rendah diri dan tidak percaya
pada kemampuannya sendiri.
5. Sering Membandingkan Anak
Perbandingan menciptakan iri
hati, merusak relasi, dan memicu perfeksionis cemas.
“Kalau ingin membandingkan,
bandingkanlah dengan pasangan, bukan dengan anak,” ujar beliau disambut senyum
para peserta.
6. Overprotektif
Orang tua yang terlalu cepat
menolong membuat anak tidak terlatih menghadapi frustrasi. Akibatnya, anak
mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan.
7. Memerintah Tanpa Mengakui
Perasaan Anak
Pola ini melemahkan empati dan
membuat anak sulit menjaga hubungan sosial.
Delapan Kalimat Ajaib dalam Pola
Asuh
Sebagai solusi praktis, Dr. Asep
membagikan delapan kalimat sederhana yang memiliki dampak besar terhadap
pembentukan karakter anak, yaitu:
Ia mengajak orang tua untuk
merenung:
“Berapa kali kita mengucapkannya
dalam sehari? Anak-anak butuh rasa aman secara emosional. Kalau rumah sudah
nyaman, anak tidak akan mencari validasi berlebihan di luar,” jelasnya.
Nilai Hidup dan Algoritma: Mana
yang Lebih Berpengaruh?
Dalam
bagian yang paling reflektif, Dr. Asep menjelaskan bahwa anak-anak hari ini
adalah generasi digital native, karena mereka lahir di era layar digital, dapat
mengakses informasi tanpa batas, dan dipengaruhi oleh algoritma media sosial.
“Nilai hidup anak hari ini
bersaing dengan algoritma. Kalau kita tidak hadir secara psikologis, maka
algoritma yang akan mengambil alih. Orang tua juga harus hadir secara
psikologis, bukan hanya fisik. Kehadiran emosional inilah yang akan membuat
anak merasa cukup dan tidak mencari validasi berlebihan di luar rumah.”
ujarnya.
Jika rumah menjadi tempat yang
nyaman, anak akan bercerita kepada orang tuanya tentang apa pun yang mereka
alami di luar.
Penutup: Warisan Terbesar
Orang Tua
Seminar ditutup dengan pesan
mendalam yang menggetarkan hati para peserta.
“Kita tidak hidup selamanya.
Didiklah anak-anak kita dengan sungguh-sungguh, agar kelak ketika kita sudah
tiada, mereka menjadi pribadi yang baik dan mendoakan orang tuanya.”
Seminar parenting ini menegaskan
bahwa peran orang tua dalam pembentukan karakter anak di era digital bukanlah
pilihan, melainkan kewajiban. Seminar ini juga menegaskan bahwa sekolah dan
orang tua harus berjalan beriringan. Sekolah mendidik di ruang kelas, tetapi
karakter dibentuk setiap hari di rumah.
Melalui seminar parenting ini,
SMP Ibnu Syina Cileungsi menunjukkan komitmennya dalam membangun generasi yang
berkarakter kuat, berilmu, serta siap menghadapi tantangan di era digital.
Dengan kolaborasi antara sekolah dan keluarga, pendidikan tidak hanya menghasilkan siswa yang cerdas secara akademik, tetapi juga matang secara emosional dan spiritual.